Saham Gorengan! Definisi Asli dan Ciri Khasnya


artikel-thumbnail

Beberapa dari kalian mungkin menganggap istilah “Saham Gorengan” adalah sebuah istilah yang unik dan lucu. Padahal sebenarnya “Saham Gorengan” sudah lazim digunakan di dunia saham. Bahkan kasus “Saham Gorengan” sempat menjadi trend ketika perusahaan perencanaan keuangan asal Indonesia yaitu Jouska menggunakan uang nasabahnya untuk membeli salah satu “Saham Gorengan” yaitu LUCK. Kata “Saham Gorengan” juga sempat kembali mencuat tatkala Jiwasraya rugi karena menginvestasikan dana nya pada saham PPRO, SMBR, dan BJBR (Ketiga saham ini diklaim sebagai saham BUMN gorengan). Kedua kasus ini tidak berakhir “happy ending” dikarenakan Jouska diminta mengganti rugi uang nasabahnya yang rugi di saham LUCK sebesar 64 miliar, sedangkan Jiwasraya harus menerima rugi 10,4 trilian dari investasi nya tersebut.


Lalu dari kedua berita negatif di atas, kenapa kita berani bicara tentang “Saham Gorengan”? Atau bahkan lebih gila nya lagi sesuai judul buku ini, kita ingin mencuri rumusu trader-trader “Saham Gorengan”!!


Oleh karena itu, ada baiknya kita bahas terlebih dahulu mengenai apa itu “Saham Gorengan”



Definisi Keliru Tentang Saham Gorengan


Saat kita melakukan searching terhadap istilah “Saham Gorengan” di google. Kita selalu di arahkan pada konotasi negatif tentang “Saham Gorengan”. Artikel yang khusus membahas “Saham Gorengan” biasanya diberikan imbuhan “Jangan Ketipu!” ataupu “Hindari!”. 


Definisi-definisi yang diberikan pun cenderung abu-abu. Misalnya definisi “Saham Gorengan” dari CNBC adalah sebagai berikut : 

  1. Masuk ke dalam daftar Unusual Market Activity (UMA)

  2. Volume dan nilai transaksi harian tidak wajar

  3. Bid dan offer tidak wajar

  4. Kinerja keuangan tidak berjalan sejalan dengan kenaikan harga

  5. Tidak dapat dianalisis

Kelima definisi tersebut saya katakan sebagai abu-abu dikarenakan tidak ada patokan yang jelas atau treshold yang ada agar dikatakan bahwa saham tersebut dikatakan “Saham Gorengan”. Kita akan bedah ini secara singkat


Masuk ke dalam daftar UMA. UMA terjadi ketika suatu saham naik melebihi batas auto reject-nya dalam beberapa kali secara berturut-turut. Apakah semua saham yang masuk ke dalam daftar UMA adalah saham gorengan? Jelas tidak, karena saham yang kapitalisasinya besar dan masuk ke golongan blue chip seperti MEDC, INDY, BRPT, dan TPIA pun pernah masuk ke deretan saham yang UMA. Saham-saham tersebut malahan memiliki fundamental yang bagus sehingga kriteria ini langsung bertolak belakang dengan ciri nomor 4 (kinerja keuangan tidak berjalan sejalan dengan kenaikan harga)

Kinerja keuangan tidak berjalan sejalan dengan kenaikan harga. Ini juga sesuatu yang abu-abu dikarenakan saham LQ45 seperti UNVR pun pernah mencatatkan penurunan harga saham pada tahun 2017 ke 2018 padahal Earning per Share UNVR justru meningkat dari 921 ke 1194. Apakah UNVR termasuk “Saham Gorengan”? Tentu Tidak


Tidak dapat dianalisis. Hal ini bisa dikatakan ya dan tidak. Jika dilihat dari sisi fundamental, banyak “Saham Gorengan” yang justru memiliki fundamental baik atau wajar (Saham-saham ini yang disebut sebagai saham salah harga oleh Lo Kheng Hong) justru beberapa saham bluechip memiliki fundamental yang sudah jauh terlalu mahal dari harga bukunya. Sehingga akan sangat sulit mengindikasi “Saham Gorengan” dari hal seperti ini.


Sedangkan dari sisi teknikal, dengan chart yang cukup sebenarnya semua saham bisa dianalisis. Yang tidak bisa dianalisis secara teknikal justru adalah saham-saham IPO yang masih beredar di pasar saham sekitar 1-2 hari. Apakah saham IPO dikatakan sebagai “Saham Gorengan”? Anda akan sangat menyinggung seluruh emiten yang akan IPO kalau begitu.


Definisi Saham Gorengan Yang Sebenarnya!


Saham Gorengan sebenarnya dikategorikan secara jelas berdasarkan kapitalisasi pasarnya (seberapa banyak uang yang perlu anda keluarkan untuk memborong habis saham tersebut). Nah berdasarkan kapitalisasi pasarnya saham dibagi menjadi 3 yaitu


1. Saham First Liner (Blue Chip)


Saham yang masuk kategori ini kapitalisasi pasarnya di atas 10 triliun. Saham kategori ini di sebut juga dengan istilah blue chip. Biasanya saham yang masuk ke kategori ini bergerak lambat dan cenderung aman. Ini berkaitan dengan kapitalisasi pasarnya yang besar sehingga bandar sulit sekali untuk menggerakan saham seperti ini. Contoh saham first liner adalah saham-saham LQ45 seperti UNVR, GGRM, BBCA


2. Saham Second Liner


Saham yang masuk kategori ini kapitalisasi pasarnya berkisar antara 500 milyar - 10 triliun. Biasanya saham yang masuk ke kategori ini masuk ke dalam indeks KOMPAS 100. Nah saham-saham seperti PPRO yang dibeli Jiwasraya sebenarnya masuk ke kategori ini dan bukan saham gorengan


3. Saham Third Liner (Saham Gorengan)


Saham yang masuk kategori ini kapitalisasi pasarnya berkisar di bawah 500 milyar. Nah saham-saham yang masuk ke kategori ini yang disebut sebagai Saham Gorengan. Karena kapitalisasi dan volume yang kecil maka saham ini mudah sekali untuk digoreng bandar